Menghidupkan Lahan Tidur, Menumbuhkan Petani Milenial

Sumber Gambar : Dokumentasi SWT

Menghidupkan Lahan Tidur, Menumbuhkan Petani Milenial

Sabtu (28/2/2026), Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh meninjau lahan tidur di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang akan digunakan untuk memberdayakan petani milenial. Inisiatif ini bagian dari upaya meneguhkan Indonesia sebagai negara agraris sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor pangan.

Lahan tersebut akan dibudidayakan dengan berbagai tanaman pertanian, seperti edamame, baby buncis, dan okra, ditambah tanaman perkebunan pendukung. Program ini diharapkan tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi ruang inovasi pertanian melalui kolaborasi hexahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan masyarakat.

“Proses ini bukan sekadar pengelolaan lahan tidur, tapi kami maknai sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan praktik terbaik bagi generasi muda,” ujar Ketua Yayasan Sangkar Wiku Tumuwuh, Dimas Herdy Utomo, yang meninjau langsung lokasi.

Di balik hamparan lahan tidur milik pemerintah, tersimpan potensi besar yang menunggu untuk dihidupkan. Bersama para petani milenial, yayasan membuka ruang belajar sekaligus praktik, di mana pengalaman petani senior bertemu dengan pendekatan baru, teknologi sederhana, dan semangat kewirausahaan sosial generasi muda.

Program ini bertujuan menjadikan tanah tidur sebagai tempat belajar dan riset, sekaligus mendorong pertanian sebagai pilihan masa depan yang realistis. Aktivasi petani milenial dipandang sebagai proses menjembatani pengetahuan, mengukuhkan pilihan, dan mempersiapkan masa depan.

“Regenerasi petani bukan sekadar isu, tetapi kerja nyata yang membutuhkan pendampingan, konsistensi, dan keberpihakan pada proses,” tambah Dimas.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, mulai dari dialog, pemetaan potensi, hingga pengelolaan yang menjaga keberlanjutan ekologis sekaligus kesejahteraan petani. Termasuk pemaksimalan aset daerah agar dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat.

Dengan inisiasi ini, Sangkar Wiku Tumuwuh berharap keberhasilan program dapat direplikasi di daerah lain. Menurut yayasan, merawat tanah dan menumbuhkan kapasitas manusia adalah inti dari ketahanan pangan: pangan bukan hanya soal panen, tetapi soal keberanian memulai dan ketekunan merawat. ***